Ilmu adalah Pemimpin ‘Amal

oleh Muhammad Abduh Tuasikal

Alhamdulillah wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala alihi wa
shohbihi wa man tabi’ahum bi ihsaanin ilaa yaumid diin.

Mu’adz bin Jabal –radhiyallahu ‘anhu- mengatakan,
“Ilmu adalah pemimpin amal dan amalan itu berada di belakang setelah
adanya ilmu.” (Al Amru bil Ma’ruf wan Nahyu ‘anil Mungkar, hal. 15)

Bukti Bahwa Ilmu Lebih Didahulukan daripada Amalan
Ulama hadits terkemuka, yakni Al Bukhari berkata, “Al ‘Ilmu Qoblal Qouli
Wal ‘Amali (Ilmu Sebelum Berkata dan Berbuat)“. Perkataan ini merupakan
kesimpulan yang beliau ambil dari firman Allah ta’ala,
“Maka ilmuilah (ketahuilah)! Bahwasanya tiada sesembahan yang berhak
disembah selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu” (QS. Muhammad
[47]: 19).

Dalam ayat ini, Allah memulai dengan ‘ilmuilah’ lalu mengatakan ‘mohonlah
ampun’. Ilmuilah yang dimaksudkan adalah perintah untuk berilmu terlebih
dahulu, sedangkan ‘mohonlah ampun’ adalah amalan. Ini pertanda bahwa ilmu
hendaklah lebih dahulu sebelum amal perbuatan.
Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berdalil dengan ayat ini untuk
menunjukkan keutamaan ilmu. Hal ini sebagaimana dikeluarkan oleh Abu
Nu’aim dalam Al Hilyah ketika menjelaskan biografi Sufyan dari jalur Ar
Robi’ bin Nafi’ darinya, bahwa Sufyan membaca ayat ini, lalu mengatakan,
“Tidakkah engkau mendengar bahwa Allah memulai ayat ini dengan mengatakan
‘ilmuilah’, kemudian Allah memerintahkan untuk beramal?” (Fathul Bari,
Ibnu Hajar, 1/108)

Al Muhallab rahimahullah mengatakan, “Amalan yang bermanfaat adalah amalan
yang terlebih dahulu didahului dengan ilmu. Amalan yang di dalamnya tidak
terdapat niat, ingin mengharap-harap ganjaran, dan merasa telah berbuat
ikhlas, maka ini bukanlah amalan (karena tidak didahului dengan ilmu,
pen). Sesungguhnya yang dilakukan hanyalah seperti amalannya orang gila
yang pena diangkat dari dirinya.“ (Syarh Al Bukhari libni Baththol, 1/144)

Ibnul Munir rahimahullah berkata, “Yang dimaksudkan oleh Al Bukhari bahwa
ilmu adalah syarat benarnya suatu perkataan dan perbuatan. Suatu perkataan
dan perbuatan itu tidak teranggap kecuali dengan ilmu terlebih dahulu.
Oleh sebab itulah, ilmu didahulukan dari ucapan dan perbuatan, karena ilmu
itu pelurus niat. Niat nantinya yang akan memperbaiki amalan.” (Fathul
Bari, 1/108)

Keutamaan Luar Biasa Ilmu Syar’i
Setelah kita mengetahui hal di atas, hendaklah setiap orang lebih
memusatkan perhatiannya untuk berilmu terlebih dahulu daripada beramal.
Semoga dengan mengetahui faedah atau keutamaan ilmu syar’i berikut akan
membuat kita lebih termotivasi dalam hal ini.

Pertama, Allah akan meninggikan derajat orang yang berilmu di akhirat dan
di dunia
Di akhirat, Allah akan meninggikan derajat orang yang berilmu beberapa
derajat berbanding lurus dengan amal dan dakwah yang mereka lakukan.
Sedangkan di dunia, Allah meninggikan orang yang berilmu dari hamba-hamba
yang lain sesuai dengan ilmu dan amalan yang dia lakukan.
Allah Ta’ala berfirman,
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan
orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS Al
Mujadalah: 11)

Kedua, seorang yang berilmu adalah cahaya yang banyak dimanfaatkan manusia
untuk urusan agama dan dunia meraka.
Dalilnya, satu hadits yang sangat terkenal bagi kita, kisah seorang
laki-laki dari Bani Israil yang membunuh 99 nyawa. Kemudian dia ingin
bertaubat dan dia bertanya siapakah di antara penduduk bumi yang paling
berilmu, maka ditunjukkan kepadanya seorang ahli ibadah. Kemudian dia
bertanya kepada si ahli ibadah, apakah ada taubat untuknya. Ahli ibadah
menganggap bahwa dosanya sudah sangat besar sehingga dia mengatakan bahwa
tidak ada pintu taubat bagi si pembunuh 99 nyawa. Maka dibunuhlah ahli
ibadah sehigga genap 100 orang yang telah dibunuh oleh laki-laki dari Bani
Israil tersebut. Akhirnya dia masih ingin bertaubat lagi, kemudian dia
bertanya siapakah orang yang paling berilmu, lalu ditunjukkan kepada
seorang ulama. Dia bertanya kepada ulama tersebut, “Apakah masih ada pintu
taubat untukku”. Maka ulama tersebut mengatakan bahwa masih ada pintu
taubat untuknya dan tidak ada satupun yang menghalangi dirinya untuk
bertaubat. Kemudian ulama tersebut menunjukkan kepadanya agar berpindah ke
sebuah negeri yang penduduknya merupakan orang shalih, karena kampungnya
merupakan kampung yang dia tinggal sekarang adalah kampung yang penuh
kerusakan. Oleh karena itu, dia pun keluar meninggalkan kampung
halamannya. Di tengah jalan sebelum sampai ke negeri yang dituju, dia
sudah dijemput kematian.
(HR. Bukhari dan Muslim). Kisah ini merupakan kisah yang sangat masyhur.
Lihatlah perbedaan ahli ibadah dan ahli ilmu.

Ketiga, Ilmu adalah Warisan Para Nabi
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, mereka hanyalah
mewariskan ilmu. Barangsiapa yang mengambilnya, maka dia telah memperoleh
keberuntungan yang banyak.” (HR Abu Dawud no. 3641 dan Tirmidzi no. 2682.
Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan Abi Daud dan Shohih wa
Dho’if Sunan Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini shohih)

Keempat, Orang yang Berilmu yang Akan Mendapatkan Seluruh Kebaikan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa yang Allah kehendaki mendapatkan seluruh kebaikan, maka Allah
akan memahamkan dia tentang agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan,
“Setiap orang yang Allah menghendaki kebaikan padanya pasti akan diberi
kepahaman dalam masalah agama. Sedangkan orang yang tidak diberikan
kepahaman dalam agama, tentu Allah tidak menginginkan kebaikan dan
bagusnya agama pada dirinya.” (Majmu’ Al Fatawa, 28/80)

Ilmu yang Wajib Dipelajari Lebih Dahulu
Ilmu yang wajib dipelajari bagi manusia adalah ilmu yang menuntut untuk
diamalkan saat itu, adapun ketika amalan tersebut belum tertuntut untuk
diamalkan maka belum wajib untuk dipelajari. Jadi ilmu mengenai tauhid,
mengenai 2 kalimat syahadat, mengenai keimanan adalah ilmu yang wajib
dipelajari ketika seseorang menjadi muslim, karena ilmu ini adalah dasar
yang harus diketahui.
Kemudian ilmu mengenai shalat, hal-hal yang berkaitan dengan shalat,
seperti bersuci dan lainnya, merupakan ilmu berikutnya yang harus
dipelajari. Kemudian ilmu tentang hal-hal yang halal dan haram, ilmu
tentang mualamalah dan seterusnya.
Contohnya seseorang yang saat ini belum mampu berhaji, maka ilmu tentang
haji belum wajib untuk ia pelajari saat ini. Akan tetapi ketika ia telah
mampu berhaji, ia wajib mengetahui ilmu tentang haji dan segala sesuatu
yang berkaitan dengan haji. Adapun ilmu tentang tauhid, tentang keimanan,
adalah hal pertama yang harus dipelajari karena setiap amalan yang ia
lakukan tentunya berkaitan dengan niat. Kalau niatnya dalam melakukan
ibadah karena Allah maka itulah amalan yang benar. Adapun kalau niatnya
karena selain Allah maka itu adalah amalan syirik. Ini semua jika
dilatarbelakangi dengan aqidah dan tauhid yang benar.

Penutup
Marilah kita awali setiap keyakinan dan amalan dengan ilmu agar luruslah
niat kita dan tidak terjerumus dalam ibadah yang tidak ada tuntunan (alias
bid’ah). Ingatlah bahwa suatu amalan yang dibangun tanpa dasar ilmu malah
akan mendatangkan kerusakan dan bukan kebaikan.
‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz mengatakan,
“Barangsiapa yang beribadah kepada Allah tanpa ilmu, maka dia akan membuat
banyak kerusakan daripada mendatangkan kebaikan.” (Al Amru bil Ma’ruf wan
Nahyu ‘anil Mungkar, hal. 15)
Di samping itu pula, setiap ilmu hendaklah diamalkan agar tidak serupa
dengan orang Yahudi. Sufyan bin ‘Uyainah –rahimahullah- mengatakan,
“Orang berilmu yang rusak (karena tidak mengamalkan apa yang dia ilmui)
memiliki keserupaan dengan orang Yahudi. Sedangkan ahli ibadah yang rusak
(karena beribadah tanpa dasar ilmu) memiliki keserupaan dengan orang
Nashrani.” (Majmu’ Al Fatawa, 16/567)

Semoga Allah senantiasa memberi kita bertaufik agar setiap amalan kita
menjadi benar karena telah diawali dengan ilmu terdahulu. Semoga Allah
memberikan kita ilmu yang bermanfaat, amal yang sholeh yang diterima, dan
rizki yang thoyib.

Alhamdulilllahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shallallahu
‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

2 komentar:

Rossbaru mengatakan...

sekali posting langsung tiga nih, siip. Komen yang ini dulu, bener banget ilmu mesti diduluin, gimana mo mengamalkan klo nggak ada ilmunya, kan sama juga boong. Dengan kata lain klo kita berbuat sesuatu mesti ada dasarnya(:berilmu), jadi akan jelas arah tujuannya.

perikecil mengatakan...

assalamu'alaikum....

saya mau minta penjelasan nech pak tentang hadits yang artinya "barang siapa menginginkan kebahagiaan dunia,maka kuasailah dengan ilmu dan barang siapa yang menginginkan kebahagiaan akhirat maka kuasailah dengan ilmu dan barang siapa yang menginginkan keduanya, maka kuasailah dengan ilmu.

:10 :11 :12 :13 :14 :15 :16 :17
:18 :19 :20 :21 :22 :23 :24 :25
:26 :27 :28 :29 :30 :31 :32 :33
:34 :35 :36 :37 :38 :39

Posting Komentar

Next Prev home
Learn, Fill The Blank and Enjoy The Blog, Don't Forget To Leave Comment. by Rocky Sahbas Fauzy